Pertemuan III
Cabang Filsafat Umum – Aksiologi
Aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahas tentang nilai. Istilah axiology berasal dari kata axios yang artinya nilai atau sesuatu yang berharga dan logos yang berarti akal, teori. Jadi axiology artinya teori nilai, kriteria, status metafisika dari nilai. Nilai merupakan sesuatu “luhur” yang mengarahkan manusia melakukan tindakan demi terwujudnya kualitas hidup dan tatanan kosmis yang harmonis. Nilai juga merupakan sebuah kepercayaan yang diyakini, dipilih, dan dilakukan untuk menemukan hakikat dari sesuatu.
Indikasi sesuatu yang bernilai:
a.       Melakukan sesuatu dengan giat atau senang bahkan berani mengorbankan sesuatu.
b.      Apresiasi bagi orang yang melakukan
c.       Dilakukan secara kontinu
Beberapa pandangan tentang nilai:
a.       Nilai psikis, pengalaman nilai diperoleh melalui sebuah pengalaman
b.      Nilai hakikat, inti dari sesuatu, nilai dianggap sebagai objek ideal(intemporality)
c.       Nilai melekat pada benda atau sesuatu(caries of value)
Kualitas nilai:
a.       Nilai objektif, melekat pada benda nilai yang teramati. Prasyarat bagi pemaknaan menghasilkan fenomena.
b.      Nilai intersubjektif, subjek berpotongan dengan subjek lain dalam hal pengamatan. Kesepakatan antar manusia dalam pemaknaan.
Hirarki nilai(rendah-tinggi)
a.       Nilai kesenangan, perasaan inderawi.
b.      Nilai vitalitas, kehidupan (perasaan halus, kasar, luhur)
c.       Nilai spiritual, tidak terikat dengan problem inderawi.
d.      Nilai kesucian dan keprofanan.
Kriteria tingkatan nilai:
a.       Kemampuan bertahan-kecenderungan instrinsik. Contohnya cinta sejati.
b.      Tidak bisa dibagi-bagi-utuh. Contohnya karya seni (keindahan)
c.       Kesalingtergantungan diantara tingkatan nilai yang lain
d.      Semakin dalam kepuasan yang didapat, semakin tinggi nilai tersebut.
e.      Relativitas nilai terhadap nilai yang absolute.
4 faktor yang berkaitan dengan masalah utama axiology:
a.       Kodrat nilai berupa masalah mengenai apakah nilai itu berasal dari keinginan
b.      Jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai instrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab mengenai nilai-nilai instrinsik.
c.       Criteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai
d.      Status metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaimana hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselediki
Aksiologi dibagi menjadi dua, yaitu:
1.       Etika mengandung 3 pengertian:
a.       Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai atau norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
b.      Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral. Misalnya kode etik.
c.       Etika merupakan ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis. Etika dalam hal ini sama dengan filsafat moral.
2.       Estetika sebagai ilmu yang membicarakan nilai seni secara filosofis: kritis, diskretif dan otonom.

Cabang Filsafat Umum – Metafisika
     Secara etimologis: meta ta physika = sesudah fisika. Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika). Para filsuf prasokratis sudah berfilsafat, tapi minat mereka terarah pada fisis, dunia pengamatan. Menurut Aristoteles hal yang fisis ini tidak tetap, kurang stabil, belum mencapai dasar terdalam karena terbatas pada keterangan fisik. Maka filsafat ini disebut Aristoteles dengan filsafat kedua (fisis). Filsafat tertinggi yang tidak dapat diatasi lagi yang disebut dengan filsafat pertama. Aristoteles menyusun filsafat pertama dengan berangkat dari filsafat kedua. Maka Aristoteles mengusulkan cabang baru yaitu ta meta ta physika.
     Filsafat tentang ta meta ta physika menurut Aristoteles berpusat pada to on hei on (a being as being): yang ada sejauh dia ada. Ada sebagai objek pemikiran, yang meliputi segala-galanya.
Ada tiga nama yang dipakai untuk menunjuk hal yang sama:
a.       filsafat pertama;
b.      metafisika umum;
c.       ontologi
Beragam arti metafisika:
a.       upaya mengkarakterisasi realitas sebagai keseluruhan;
b.                      usaha menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas;
c.                       secara umum pembahasan falsafati yanng komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.
Pembagian metafisika:
1.       Metafisika umum: ontologi.
Karena meneliti dasar paling umum untuk segala-galanya, ontologi pantas disebut filsafat pertama. Namun ontologi telah mengandaikan semua bagian filsafat lainnya. Ontologi membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilan eksistensi itu. Terdapat tiga teori ontologism, yaitu:
a.       idealisme: ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya. Tokohnya:
·         Berkeley (1685-1753): realitas sesungguhnya ialah aku subjektif spiritual.
·         I. Kant (1724-1804): objek pengalaman ialah yang ada dalam ruang dan waktu, penampilan dari yang tak punya eksistensi dan independen di luar pemikiran kita.
·         Hegel (1770-1831): segala sesuatu yang ada adalah satu bentuk dari satu pikiran.
b.      Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan. Tokohnya:
·         Leukippos dan Demokritos (460-370sM): realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yang tak dapat dibagi (atom).
·         Hobbes (1588-1679): realitas ialah materi yang tak bergantung pada pikiran kita.
·         L.A.Feuerbach (1804-1872): material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam meteri itu.
c.       Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Dibedakan dengan monisme dan pluralisme (àteori tentang jumlah substansi).
Ontologi bergerak di antara dua kutub, antara pengalaman akan kenyataan konkret dan prapengertian mengada yang paling umum. Dalam refleksi ontologis kedua kutub itu saling menjelaskan. Atas dasar pengalaman tentang kenyataan akan semakin disadari dan dieksplisitkan arti dan hakekat mengada. Tapi prapemahaman tentang mengada semakin menyoroti pengalaman konkrit dan membuatnya terpahami sungguh-sungguh. Jadi refleksi ontologis berbentuk suatu lingakaran hermeneutis antara pengalaman dan mengada.
2.       Metafisika khusus: kosmologi, teologi metafisik, filsafat antropologi.
a.       Kosmologi
Kosmologi: kosmos: dunia/ketertiban,  logos: kata, ilmu) percakapan tentang alam/ketertiban paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi memandang alam sebagai totalitas dari fenomena. Yang disoroti: ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, keabadian dengan metode rasional.
b.      Teologi metafisik: dikenal dengan theodicea yang membahas kepercayaan pada Allah di tengah realitas kejahatan yg merajalela di dunia. Teologi metafisik membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dengan bukti rasional sebagai berikut.
·         Argumen ontologis: semua manusia punya ide tentang Allah. Realitas lebih sempurna dari ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dari ide manusia tentang Tuhan.
·         Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
·         Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
·         Argumen moral: Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah. David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama. Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.  L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia. F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati. Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu a) penguasa alam, b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yg mengerikan, c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.
3.       Filasafat Antopologi
Bagian metafisika khusus yang mempersoalkan apakah manusia itu, hakikat manusia, hubungannya dengan alam dan sesamanya.
Pendapat tokoh tentang manusia:
·         Pythagoras: ajaran keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan bila manusia telah mati. Perpindahan jiwa merupakan proses penyucian jiwa.
·         Demokritos: manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus.
·         Plato: manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh kejahatan dan jiwa ada dlm tubuh, maka tubuh adalah penjara jiwa.
Manfaat bermetafisika
a.       Mampu membaca masalah secara komprehensif.
b.      Menemukan problem melebihi masalah teknis dan praktis.
c.       Mampu merumuskan prinsip, nilai dan makna secara mendasar.
d.      Mampu menyusun sintesa secara logis dan koheren.
e.      Mampu mengartikulasi secara gamblang pengalaman yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa sehari-hari.

Pertemuan V
Logika
     Logika dari bahada Yunani logikos – logos, berarti: sesuatu yang diungkapkan/diutarakan lewat bahasa. Pertama sekali digunakan istilah itu oleh Zeno dari Citium (334 – 262 SM). Logika merupakan cabang filsafat yg mempelajari, menyusun, dan membahas asas-asas/aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Objek material logika adalah manusia itu sendiri. Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran lewat bahasa.
     Istilah logika pertama digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Kendati istilah yang digunakan adalah analitika, tapi ia yang pertama sekali meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yg benar. Prinsip logika tradisional yg dikembangkan Aristoteles tetap menjadi prinsip logika modern. Logika tradisional membahas defenisi, konsep dan term menurut struktur, susunan dan nuansa, seluk beluk penalaran untuk mendapat kebenaran sesuai kenyataan.
Kegunaan logika:
a.       Membantu org yang mempelajari logika untuk berpikir rasional, kritis, lurus, metodis.
b.      Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif.
c.       Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan secara tajam/mandiri.
d.      Meningkatkan cinta akan kebenaran untuk menghindari kekeliruan/kesesatan.
     Logika menjadi keharusan bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tanpa logika tidak bisa mencapai kebenaran ilmiah. “Logika benar-benar merupakan alat bagi seluruh ilmu pengetahuan” (Aristoteles, bapa logika). Logika membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
     Logika dan bahasa. Penalaran adalah kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir tidak mungkin berlangsung tanpa bahasa. Maka, bahasa menjadi alat bernalar. Namun, bahasa sebagai alat bernalar untuk mengungkapkan isi pikiran punya keterbatasan. Kita kerap tidak bisa menungkapkan secara sempurna apa yang kita pikirkan karena tidak bisa menemukan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya. Menguasai dulu tata bahasa agar bisa belajar logika bisa membantu, tapi keahlian tata bahasa bukan prasyarat agar bisa berlogika. Tata bahasa membahas syarat yang harus dipenuhi agar bisa berbahasa dengan baik. Sedangkan logika membahas proses penalaran dan isi pikiran yang diungkapkan lewat bahasa.
Macam-macam logika:
a.       Logika kodrati: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
b.      Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teligi/tepat, sehingga kesesatan bisa  dihindari. Dipelajari berbagai aturan, hukum, asas agar diperoleh pemikiran yang benar dan bisa dipertangungjawabkan secara rasional.
Pembagian materi logika:
a.       Pengertian: tugas  pemikiran manusia adalah mengerti pernyataan dengan membentuk pengertian karena pengetahuan indrawi. Mis. Pengertian kata ‘saya’, ‘membeli’, ‘rumah’, dll.
b.      Hubungan yg ada antara pengertian: Hubungan itu bisa menyetujui (S = P: Saya membeli rumah) atau memisahkan (S tidak sama dengan P: Saya tidak membeli rumah). Ini disebut dengan putusan yang diungkapkan dalam kalimat berita.
c.       Menyimpulkan: dengan mengaitkan apa yang sudah dimengerti, sehingga sampai pada kesimpulan.
Manfaat belajar logika:
  1. Membantu setiap orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
  2. Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak.
  3. Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
  4. Menambah kecerdasan berpikir, sehingga bisa menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan.

Logika Induktif
     Logika/Penalaran induktif: cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik kesimpulan umum tertentu. Atas dasar fakta dirumuskan kesimpulan umum. Kesimpulan itu merupakan generalisasi fakta yg memperlihatkan kesamaan. Namun kesimpulan umum harus dianggap sebagai bersifat sementara.
     Ciri dasar induktif selalu tidak lengkap. Persamaan penalaran induktif dengan deduktif ialah argumentasi keduanya terdiri dari premis-premis yang mendukung kesimpulan. Perbedaan: penalaran induksi yang tepat akan punya premis-premis benar tapi kesimpulan salah, karena argumentasi penalaran induktif tidak membuktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan berisi suatu kemungkinan. Maka argumentasi dalam penalaran induksi tidak dinilai sebagai sahih/valid atau tidak sahih/invalid, tapi berdasarkan probabilitas.
     Proses induksi mulai berdasarkan kejadian-kejadian, gejala partikular. Penalaran induksi; proses penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis untuk hasilkan pengertian umum/kesimpulan. Tiga ciri penalaran induktif:
a.       Premis penal induktif =proposisi empiris yg ditangkap indera
b.      Kesimpulan dlm penalaran induksi lebih luas drpd apa yang dinyatakan dlm premis.
c.       Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya.
Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional=probabilitas.
Generalisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan tentang semua. Prinsipnya apa yg terjadi beberapa kali dalam kondisi tertentu dapat diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi. Tiga syarat membuat generalisasi:
a.       Tidak terbatas secara numerik, tidak boleh terikat pada jumlah tertentu
b.      Tidak terbatas secara spasio temporal, berlaku dimana saja.
c.       Dapat dijadikan dasar pengandaian.
Analogi induktif bicara tentang dua hal yang berbeda dan dibandingkan. Dua hal perlu diperhatikan yaitu persamaan dan perbedaan. Bila memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi. Maka analogi induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yang lain yang punya sifat esensial yang sama. Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal tapi khusus. Contohnya sebagai berikut.
Mangga 1: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 2: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 3: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 4: kuning, besar, dan matang àKesimpulan tentu manis juga.
Jadi analogi induktif menarik kesimpulan atas dasar persamaan. Beda dengan generalisasi induktif, dimana konklusinya berupa proposisi  universal. Penalaran induktif, konklusinya lebih luas daripada premis-premis.
Faktor probabilitas, kebenaran konklusi dalam logika induktif, baik dalam analogi maupun generalisasi bersifat TIDAK PASTI, karena hanya bersifat mungkin (probabel). Probabilitas: keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan. Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh :
a.       faktor fakta: ‘makin besar jumlah fakta yg dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya’
b.      faktor analogi: ‘semakin besar jumlah faktor analogi dlm premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya.’
c.       faktor disanalogi: ‘makin besar faktor disanalogi di dlm premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya’.
d.      faktor luas konklusi: ‘semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya’.
Kesesatan generalisasi/analogi, tinggi rendahnya probabilitas penalaran ditentukan faktor subjektif. Faktor ini membawa manusia pada kesesatan (fallacy). Kesesatan penalaran induktif yg terpenting adalah:
  1. Tergesa-gesa: cepat menarik kesimpulan dari beberapa fakta.
  2. Faktor ceroboh:  cepat tarik kesimpulan tanpa memperhatikan soal kondisi lingkungan, misalnya semua wanita Jawa itu lembut.
  3. Prasangka: memberi penilaian tanpa melihat fakta lain yang tidak cocok, misalnya semua orang Batak bicara keras dan tak sabaran.
  4. Untuk menghindarinya: membangun sikap kritis, terbuka pd koreksi dan kritik dari orang  lain.
Hubungan sebab-akibat, prinsip umum: suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung makna bhbahwa yang satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tetapi tidak semua yang mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain. Hubungan sebab akibat: hubungan yang intrinsik, artinya hubun sedemikan rupa sehingga kalau yang satu ada/tidak ada, maka yang lain juga pasti ada/tidak ada. Tiga pola hubungan sebab akibat adalah
a.       dari sebab ke akibat;
b.      dari akibat ke sebab;
c.       dari akibat ke akibat.
Manfaat belajar penalaran induktif:
a.       B. Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dari logika deduktif, tapi juga lebih sulit.
b.      Manfaat logika induktif: MEMBERIKAN PEMBENARAN ATAS KECENDERUNGAN manusia yg bersandar pd kebiasaan.
c.       Memang tidak pernah bisa merasa pasti atas kebenaran suatu kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dpt menekan kemungkinan kesalahan.
d.      Maka, jangan pernah menarik kesimpulan induktif dengan data yang masih minimum, tergesagesa, ceroboh dan hanya di landasi prasangka.